Senin, 04 Februari 2013

Skabies

GATAL BERSAMA, MENGGARUK BERSAMA

 
Kata Kunci: gudik (gudikan), penyakit ampera, gatal agogo, budukan, scabies, the itch, seven-year itch, Norwegian itch, Norwegian scabies, canine scabies, mange, intense pruritus, nocturnal pruritus, Sarcoptes scabies.
Skabies atau gudikIni dia, Skabies atau Gudikan, salah satu penyakit kulit yang mudah menular ( yang disebabkan oleh kutu Scabies scabiei ) dari satu orang ke orang lainnya, sehingga tak jarang menyebar dalam keluarga ketika salah satu anggota keluarganya pulang kerumah membawa penyakit ini.
Bila sebuah keluarga terjangkit penyakit gudik (skabies) maka tak ayal akan terjadi ritual menggaruk bersama terutama di malam hari. Beberapa penderita penyakit gudik menggambarkan seperti gitaran. Gerakan menggaruk yang mirip bermain gitar di malam hari lantaran rasa gatal yang ditimbulkannya.

Ilustrasi di atas menunjukkan bahwa penyakit gudik (skabies) mudah menular dan menjangkiti sekelompok orang melalui kontak langsung maupun tidak langsung. Karenanya tak heran jika penyakit gudik (skabies) dapat dijumpai di sebuah keluarga, di kelas sekolah, di asrama, di pesantren.
Di daerah kami (Palaran, Samarinda), gudik (skabies) merebak lagi sejak tahun 2002 hingga saat ini. Pada tahap awal, penyakit gudik (skabies) sulit dibedakan dengan penyakit alergi kulit, akibatnya gudik (skabies) menyebar karena penyebabnya tidak diobati. Biasanya, penyakit gudik (skabies) terdeteksi manakala menjangkiti lebih dari 1 orang dalam sebuah keluarga.
:: :: :: PENGERTIAN :: :: ::
Skabies (gudik) adalah penyakit kulit menular yang disebabkan oleh Sarcoptes scabiei varian hominis (sejenis kutu, tungau), ditandai dengan keluhan gatal, terutama pada malam hari dan ditularkan melalui kontak langsung atau tidak langsung melalui alas tempat tidur dan pakaian.
:: :: :: PERJALANAN PENYAKIT :: :: ::
Sekilas kutu Sarcoptes scabiei.
Sarcoptes scabiei adalah kutu (atau tungau) mungil berwarna putih transparan, berbentuk bulat lonjong. Ukuran kutu (tungau) betina 0,3-0,4 mm, sedangkan si jantan setengah dari ukuran betina. Di luar kulit, kutu ini hanya dapat bertahan hidup 2-3 hari pada suhu kamar dan kelembaban 40-80%.
Cara berkembang biak dan penularan:
Setelah membuahi kutu betina maka si pejantan mati. Kutu betina yang sudah dibuahi akan membuat liang terowongan di kulit, kemudian bertelor sekitar 40-50 butir telor, dan akan menetas setelah sekitar 3-5 hari. Hasil penetasan (larva) kutu tersebut keluar ke permukaan kulit dan tumbuh menjadi kutu dewasa dalam waktu sekitar 16-17 hari. (referensi lain menyebutkan 10-14 hari)
Penularan terjadi melalui:
  • Kontak langsung, kontak seksual
  • Secara tidak langsung melalui bekas duduk, sprei (alas) tempat tidur serta pakaian.
:: :: :: TANDA-TANDA :: :: ::
Keluhan utama pada penderita skabies (gudik) adalah:
  • Rasa gatal terutama waktu malam hari.
  • Tonjolan kulit (lesi) berwarna putih keabu-abuan sepanjang sekitar 1 cm.
  • Kadang disertai nanah karena infeksi kuman akibat garukan.
Lokasi paling sering di sela-sela jari tangan, telapak tangan, pergelangan tangan, siku, ketiak, daerah payudara, sekitar pusar dan perut bagian bawah, sekitar kelamin dan pantat. Sedangkan pada bayi dan anak-anak dapat mengenai wajah, sela-sela jari kaki dan telapak kaki.
Pada pria bisa mengenai ujung kemaluan bahkan sekujur kemaluan. Duhhh gatalnya alang kepalang. ( gimana nggaruknya ya … )
:: :: :: DIAGNOSA :: :: ::
Penetapan diagnosa skabies (gudik) berdasarkan riwayat gatal terutama pada malam hari dan adanya anggota keluarga atau teman dekat yang sakit seperti penderita ( ini menunjukkan adanya penularan ).
Pemeriksaan fisik yang sangat penting adalah dengan melihat bentuk tonjolan kulit yang gatal dan arena penyebarannya.
Untuk memastikan diagnosa skabies (gudik) adalah dengan pemeriksaan mikroskop untuk melihat ada tidaknya kutu Sarcoptes scabiei atau telurnya.
:: :: :: PENGOBATAN :: :: ::
Pengobatan ditujukan pada pemberantasan kutu Sarcoptes scabiei dan mengurangi keluhan gatal serta penyulit yang timbul karena garukan.
Antibiotika dapat digunakan jika ada infeksi sekunder, misalnya bernanah di area yang terkena (sela-sela jari, kelamin, dll) akibat garukan.
:: :: :: TIPS dan ANJURAN :: :: ::
  • Periksakan ke Puskesmas, dokter, dokter spesialis kulit atau Rumah sakit setempat bila menjumpai penyakit ini untuk mendapatkan pengobatan.
  • Cuci semua baju dan alas tidur (sprei atau sejenisnya) dengan air panas.
  • Mandi teratur dengan sabun.
  • Apabila ada yang sakit Skabies (gudik), periksakan semua anggota keluarga yang kontak dengan penderita. Jika ternyata menderita skabies, obati semuanya secara serempak agar tidak terjadi penularan ulang.
  • Bagi para guru atau Ustadz yang mendapati murid atau santrinya sakit Skabies (gudik) hendaknya menganjurkan kepada murid atau santrinya untuk berobat secara serempak di Puskesmas terdekat atau poliklinik Kulit Rumah Sakit setempat.

Semoga bermanfaat

Dermatitis Seborrhoeic

Seborrhoeic Dermatitis

 
Kata kunci: Seborrhoeic Dermatitis, Seborrheic Dermatitis, Dermatitis Seboroik, Seborrheic Eczema.
Dermatitis Seboroik Dermatitis Seboroik ( Seborrhoeic Dermatitis, Seborrheic Dermatitis ) merupakan peradangan permukaan kulit berbentuk lesi squamosa (bercak disertai semacam sisik), bersifat kronis, yang sering terjadi di area kulit berambut dan area kulit yang banyak mengandung kelenjar sebasea ( kelenjar minyak, lemak ), seperti kulit kepala, wajah, tubuh bagian atas dan area pelipatan tubuh (ketiak, selangkangan, pantat).

ANGKA KEJADIAN
Prevalensi Dermatitis Seboroik diperkirakan sekitar 3-5 %. Jika ketombe yang merupakan Dermatitis Seboroik ringan ditambahkan, angka kejadian mencapai 15-20 %. Dermatitis Seboroik dapat dialami oleh semua ras.
Berdasarkan usia, Dermatitis Seboroik dapat terjadi pada semua umur, terutama usia pubertas hingga usia 40 tahun. Pada bayi, Dermatitis Seboroik kerap dijumpai di area kepala dan pelipatan tubuh. Berdasarkan jenis kelamin, Dermatitis Seboroik sedikit lebih banyak dialami pria ketimbang wanita.
PENYEBAB
Penyebab Dermatitis Seboroik hingga kini belum diketahui secara pasti. Faktor-faktor yang diduga sebagai penyebab Dermatitis Seboroik, antara lain: infeksi jamur Malassezia ovale, faktor imunologi, iklim, genetik, lingkungan, hormonal, dan aktifitas kelenjar sebasea yang berlebihan.
Selain itu, beberapa obat-obat tertentu diduga memicu terjadinya Dermatitis Seboroik, seperti: auranofin, aurothioglucose, buspirone, chlorpromazine, cimetidine, ethionamide, griseofulvin, haloperidol, interferon alfa, lithium, methoxsalen, methyldopa, phenothiazines, psoralens, stanozolol, thiothixene, dan trioxsalen (Samuel Selden, MD)
GEJALA
Dermatitis Seboroik relatif mudah dikenali karena tandanya yang khas, yakni dijumpainya krusta (bercak disertai semacam sisik) berminyak.
Gejala Pada Bayi:
  • Di area kepala (bagian depan dan samping) ditandai: krusta tebal, pecah-pecah, berwarna kekuningan dan berminyak. Tanda ini disebut cradle cap karena bentuknya yang mirip topi menutupi kulit kepala.
  • Di bagian tubuh yang lain, ditandai: ruam berwarna kemerahan, merah kekuningan, dengan krusta berminyak yang menutupi permukaannya.
Gejala Pada Dewasa:
Pada umumnya ditandai dengan:
  • Keluhan gatal
  • Peradangan pada area seboroik dengan gambaran berbagai bentuk lesi, berwarna kemerahan atau kekuningan disertai dengan adanya skuama, krusta, basah berminyak, dan bisa juga kering.
  • Residif (mudah kambuh) dan bersifat kronis. Diduga behubungan dengan faktor stress, kelelahan, sinar matahari dan iklim.
PENGOBATAN
Pada dasarnya, pengobatan Dermatitis Seboroik ditujukan untuk menghilangkan penyebabnya, jika penyebabnya diketahui, dan untuk meredakan gejalanya.
Obat Minum ( sistemik ):
  • Antihistamin untuk meredakan gatal dan reaksi alergi, misalnya: Loratadine 10 mg, Cetirizine 10 mg atau antihisamin golongan lainnya.
  • Steroid, digunakan pada Dermatitis Seboroik yang berat. Pada pemakaian jangka lama, steroid digunakan secara tappering down, yakni dosis obat diturunkan secara bertahap dan berkala.
  • Antibiotika, digunakan jika Dermatitis Seboroik disertai infeksi sekunder oleh kuman akibat garukan, gesekan, dan lain-lain.
Obat Topikal ( obat luar: salep, krim, gel, lotion, shampo, dll )
  • Krim atau salep steroid. Pada area wajah digunakan steroid potensi rendah agar kulit wajah tidak menipis pada penggunaan jangka lama.
  • Krim atau salep yang mengandung asam salisilat 2-5%, atau sulfur 4%, atau ter 2%, atau ketokonazole 2%, atau obat kombinasi.
  • Shampo yang mengandung asam salisilat, sulfur, selenium sulfida 2%, zinc pirition 1-2 %. Digunakan untuk keramas 2-3 kali seminggu selama 5-10 menit, kemudian dibilas dengan air bersih.
PENCEGAHAN
Sedapat mungkin penderita Dermatitis Seboroik mengamati pemicu timbulnya kekambuhan. Jika sudah mengenali pemicunya, diupayakan untuk mencegah paparan faktor pemicu.
Pada umumnya penderita Dermatitis Seboroik mengalami kesulitan mengenali pemicu timbulnya kekambuhan. Hal ini wajar mengingat beragamnya faktor-faktor pemicu. Kalaupun faktor pemicunya dapat dikenali, tak jarang penderita sulit menghindarinya, terutama jika faktor-faktor pemicu tersebut merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari, misalnya stress, iklim dan sejenisnya.
Semoga bermanfaat.

Condyloma acuminata

Genital warts ( Condyloma acuminata )
Jengger Ayam Condyloma acuminata (kondiloma akuminata, genital warts, kutil kelamin) atau lebih dikenal dengan istilah penyakit Jengger Ayam, mungkin karena bentuknya yang mirip Jengger Ayam pada condyloma yang luas, adalah kelainan kulit berbentuk kutil dengan permukaan berlekuk-lekuk mirip jengger ayam, yang disebabkan oleh Human Papilloma Virus (HPV) tipe tertentu. Jika pembaca pernah melihat kutil (bahasa jawa: caplak, veruka), seperti itulah bentuk condyloma acuminata. Hanya saja kutil tersebut letaknya di kelamin dan sekitarnya. Bahkan dapat menyebar ke anus (condyloma anogenital). Gambar 1: silahkan klik untuk melihat gambar condyloma acuminata di penis.

Identifikasi HPV untuk pertama kali pada tahun 1907. Kini, lebih 120 jenis subtype HPV telah dapat diidentifikasi. Tapi tidak semua type dapat menyebabkan condyloma acuminata. Sekitar 90 % condyloma acuminata diyakini berhubungan dengan type 6 dan type 11. Belasan tye lainnya dijumpai pula pada penderita condyloma acuminata. Para ahli menengarai HPV type tertentu memiliki kecenderungan onkogenk (potensial menjadi kanker), terutama type 16 dan type 18.
Penyebaran Penyakit
condyloma acuminata di vagina Penyebaran condyloma acuminata bersifat kosmopolitan, artinya merambah ke seluruh belahan dunia tanpa memandang ras.
Berdasarkan jenis kelamin, frekuensi kejadian antara pria dan wanita sama besarnya. Sedangkan berdasarkan kelompok umur disebutkan bahwa condyloma acuminata lebih sering dijumpai pada usia dewasa muda dan pada usia tigapuluhan. Hal ini dikaitkan dengan peningkatan aktifitas seksual. ( Gambar 2: silahkan klik untuk melihat condyloma acuminata di vagina )
Penularan dan Perjalanan Penyakit
HPV ditularkan melalui kontak langsung, dari mulut ke organ kelamin, dari jari ke organ kelamin dan sebaliknya, serta melalui hubungan seksual, sehingga condyloma acuminata dikelompokkan sebagai Penyakit Menular Seksual (PMS, STD).
Bagaimana mengenalinya ?
Masa inkubasi condyloma acuminata berkisar antara 3 minggu sampai 8 bulan dengan rata-rata 3 bulan.
Condyloma acuminata relatif mudah dikenali karena bentuknya yang khas, mirip jengger ayam, yakni kutil dengan permukaan berlekuk-lekuk (berjonjot-jonjot) di organ kelamin dan sekitarnya. Kutil-kutil kecil dapat bergabung membentuk kelompok yang lebih besar mirip dengan bunga kol.
Pada umumnya condyloma acuminata berwarna kemerahan, coklat kemerahan, keabu-abuan hingga ada yang berwarna kehitaman.
Jika mengalami infeksi sekunder (oleh garukan, gesekan atau sebab lain), condyloma acuminata berubah warna menjadi kehitaman, mudah berdarah dan berbau tak sedap.
Pada pria, tempat yang paling disukai (predileksi) Condyloma acuminata diantaranya: gland penis (topi baja si cucakrowo), lekukan antara kepala dan batang penis (sulkus koronarius), jaringan tipis di bawah ujung saluran kencing (frenulum), batang penis dan adakalanya di sekitar anus.
Sedangkan pada wanita, tempat yang paling digemari si Condyloma acuminata diantaranya: labium (bibir vagina), vagina dan dapat juga mengenai serviks.
Seorang dokter dapat mendiagnosa condyloma acuminata berdasarkan gejala klinis, yakni dengan melihat bentuk dan predileksi kutil (jonjot-jonjot) pada area kelamin.
Jika meragukan, maka akan dilakukan test sederhana menggunakan asam asetat 5% yang dioleskan di permukaan kutil selama 3-5 menit. Pada condyloma acuminata maka kutil akan berubah warna menjadi putih.
PENGOBATAN
Hingga kini belum ada obat yang benar-benar memuaskan untuk menghilangkan HPV. Pengobatan yang lazim dilakukan adalah untuk menghilangkan condyloma acuminata, meliputi:
  • Kemoterapi, yakni pengobatan menggunakan Tinctura Podofilin 25 %, Podofilotoksin 0,5 %, Asam Trikloroasetat 25 % – 50 % dan Krim 5-flurourasil 1-5 %. Pada wanita hamil digunakan obat Asam Trikloroasetat 25-50 % seminggu sekali hingga condyloma acuminata bersih.
  • Tindakan Pembedahan, meliputi: Bedah scalpel (menggunakan pisau bedah), Bedah Listrik (elektrokauterisasi) dan Bedah Beku menggunakan Nitrogen cair. Bedah beku merupakan salah satu pilihan untuk pengobatan condyloma acuminata pada wanita hamil selain menggunakan Asam Trikloroasetat.
  • Laser karbondioksida. Metode ini lebih sedikit meninggalkan jaringan parut ketimbang Bedah Listrik.
  • Interferon. Dikenal 2 bentuk interferon, yakni interferon alfa (berbentuk suntikan dan krim) yang diberikan 3 kali seminggu selama 6 minggu dan interferon beta (suntikan) yang diberikan selama 10 hari.
  • Imunoterapi. Metode pengobatan imunoterapi digunakan pada penderita dengan condyloma acuminata yang luas dan resisten (kebal) terhadap pengobatan lain.
Meski mudah kambuh (residif), condyloma acuminata memiliki prognosis yang baik. Artinya tidak berbahaya.
VAKSINASI
Saat ini telah digunakan vaksin Papilloma virus (Gardasil) yang ditujukan untuk pencegahan kanker serviks. Adapun untuk pencegahan terhadap condyloma acuminata oleh HPV type 6 dan type 11, vaksin Gardasil diberikan pada anak laki-laki, pria dewasa dan wanita usia 9-26 tahun.
PENCEGAHAN HPV
Secara garis besar, upaya pencegahan terhadap penularan HPV dapat dilakukan dengan:
  • Menjaga hygiene organ genital.
  • Menghindari gonta-ganti pasangan.
  • Penggunaan pengaman (kondom) ditengarai tidak menjamin terjadinya penularan. Namun demikian tetap dianjurkan menggunakan pengaman (kondom) jika memiliki pasangan dengan riwayat condyloma acuminata.
  • Dianjurkan untuk tidak berhubungan intim selama masa pengobatan hingga pengobatan selesai dan benar-benar dinyatakan aman oleh dokter yang merawat.
Semoga bermanfaat.

Cacar Air

Chickenpox ( Varicella )

Varicella_hari ke 2 varicella_hr4 varicella_mulut
Vesikel hari ke 2 Vesikel hari ke 4 Bibir dan mulut
Belakangan ini ( 2 bulan terakhir sejak September ) angka kesakitan penyakit Cacar Air (varicella, Chicken pox) didaerah kami (Kecamatan Palaran) meningkat tajam dibanding bulan-bulan sebelumnya. Bahasa gampangnya: lagi musim Cacar Air. Terutama menyerang anak-anak, tapi dapat pula menyerang dewasa.

Penyakit ini sangat mudah dikenali karena bentuknya yang khas, yakni plentingen berisi cairan (dalam istilah medis disebut vesikel atau vesikula…bhs indonesia nya apa ya), tersebar hampir di sekujur tubuh bahkan di dinding bagian dalam (mukosa) rongga mulut, hidung dan mata.
Di kalangan masyarakat kita yang masih lekat dengan “omongan orang tua” dan beragam budaya, kita akan menjumpai pernik-pernik terkait penyakit cacar air. Ada yang membedaki wajah penderita cacar air dengan parutan jagung muda, yang gini gak salah, mungkin supaya dingin. Malahan, ada juga lho yang diluluri parutan jagung muda di seluruh tubuh tanpa sehelai benangpun *ikon nutup mata merenggangkan jari* :roll: … hihihi, kayak varicella fashion show … emang ada yang gitu ya ? … udah-udah ga usah bikin pengakuan, yang mesam-mesem mesti dulu pernah gitu. *halah* :P
Yang lebih heboh nih, masih ada juga yang meyakini bahwa penderita varicella gak boleh mandi…wiiihhhh. Ambune rek ! :) *yang ini tentu salah, artinya tetep mandi dong, kecuali bagi yang gak suka mandi*
Serius … Varicella atau Cacar Air atau Varisela atau Chicken pox, adalah penyakit infeksi akut (dalam waktu singkat) primer oleh virus Varicella zoster pada kulit dan mukosa (selaput atau membran misalnya selaput luar pada dinding bagian dalam rongga mulut) yang cepat menular melalui aerogen (saluran pernafasan bagian atas).
PERJALANAN PENYAKIT
Virus Varicella zoster masuk ke dalam tubuh penderita melalui saluran pernapasan bagian atas (mulut juga), memperbanyak diri (multiplikasi) dan menyebar (viremia primer) ke jaringan setempat melalui aliran darah dan aliran getah bening. Selanjutnya virus memperbanyak diri lagi untuk kemudian menyebar (viremia sekunder) ke seluruh tubuh (terutama kulit dan mukosa).
TANDA – TANDA : (gejala)
Masa inkubasi, yakni periode masuknya virus hingga muncul gejala or tanda, berkisar 10-20 hari (bervariasi nih, ada yang nulis seminggu hingga beberapa minggu, 8-12 hari, dll … ga perlu dipersoalkan).
Tanda awal (prodormal) pada anak pada umumnya berupa: demam ga begitu tinggi (sumer), nampak loyo, sakit kepala, yang dialami 1-3 hari sebelum munculnya plentingan.
Sedangkan pada dewasa, tanda awal lebih berat bo … demam bisa mencapai 40 derajat celsius atuh, sakit kepala, kadang menggigil, badan suakiiit semua, dan dapat berlangsung sekitar 4-5 hari, padahal ini baru pemanasan …
Setelah itu, muncul deh plentingan, dikit, makit lama makin banyak hingga sekujur tubuh. Termasuk di rongga mulut, mata, telinga, hidung…lengkap.
Selanjutnya plentingan berangsur mengering hingga pulih setelah sekitar 1-3 minggu.
PENGOBATAN :
  • Istirahat. Untuk anak sekolah sebaiknya gak usah masuk sekolah sekitar seminggu, mengingat masa penularan diperkirakan berlangsung 1 minggu sejak mulai timbulnya plentingan.
  • Penurun panas (bila panas), misalnya Parasetamol (dosis anak: 10 mg/kg berat badan/dosis, diberikan 4 kali sehari). Contoh: BB anak 12 kg, maka dosisnya 10×11= 110 mg (1 sendok takar atau 1/4 tablet parasetamol 500 mg) setiap kali minum. Lho, koq ga pas gitu, kan 1 sendok takar = 120 mg dan 1/4 tablet = 125 mg ? Ga papa, 10 mg tuh dosis minimal dan boleh diberikan 15 mg/KgBB setiap kali minum.
  • Acyclovir. Dosis dewasa: 5×800 mg selama 7-10 hari. Dosis Anak: 20 mg/kg BB/dosis (koreksi oleh Mas Rizal, maturnuwun Mas), max 800mg, pemberian 4 kali sehari selama 5 hari, pemberian 4 kali sehari selama 5 hari.
  • Antibiotika diberikan jika ada infeksi sekunder, misalnya Eritromisin (dosis anak: 30-50 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3-4 dosis), selama sedikitnya 4 hari.
  • Jika gatal, dapat digunakan antihistamin misalnya: loratadine 10 mg, diminum 1×1. Boleh juga pake CTM, murah meriah, tapi ngantuk poll.
  • Obat lokal (luar): Bedak Salisil 1% dan sejenisnya.
PENCEGAHAN:
Vaksinasi or imunisasi. Jadwal dan tatacaranya monggo dipersilahkan bertanya kepada dr. Rizal Sp.A. Silahkan Download Jadwal Imunisasi di sini.
UPDATE: (tambahan info oleh: dokterearekcilik)
… masalah imunisasi dari satgas imunisasi indonesia sampe saat ini diberikan 1 dosis, sedangkan pada anak umur 13 tahun keatasdan dewasa diberikan 2 dosis dengan interval 1-2 bulan. Bila sudah pernah kena cacar air gak usah imunisasi. Soal harga sekitar 300rb an.
SERBA SERBI SEPUTAR CACAR AIR
  • Hindari mencet or otak-atik plentingan, karena beresiko meninggalkan bekas. Biarkan kering dan mengelupas dengan sendirinya.
  • Plentingan pada umumnya tetep bermunculan walaupun udah diobati. Misalnya seseorang datang ke dokter pada hari kedua dimana plentingan (vesikel) masih ga banyak, maka tetep akan bertambah hingga mencapai puncaknya pada hari ke 5-7 walaupun udah diberi obat lengkap. Bukan berarti obatnya gak mempan, tapi emang perjalanan penyakitnya seperti itu. Karenanya, para orang tua gak perlu panik lantas tamasya gonta-ganti dokter.
  • Sebaiknya istirahat dan bagi siswa gak usah sekolah mengingat masa penularan diperkirakan berlangsung 1 minggu sejak mulai timbulnya plentingan. Bapak dan ibu guru juga seyogyanya memahaminya. Biasanya orang tua ato si anak maksa sekolah karena takut ketinggalan pelajaran … halah.
  • Tidak ada pantangan makan, justru dianjurkan makan makanan bergizi. Dan… tetep mandi lho yaaa, … mandi… mandi…
  • Oiya, varicella pada wanita hamil (trimester or 3 bulan pertama) dapat menimbulkan kelainan bawaan (konginetal), sedangkan pada wanita yang terkena varicella beberapa hari menjelang kelahiran dapat menyebabkan varicella pada bayinya. *maaf, bukan mau nakut-nakuti…tambahan informasi aja koq*
Oiya (lagi), tempo hari saya menemukan pertanyaan di yahoo.Answer : “apakah setiap orang mesti terkena varicella setidaknya sekali dalam hidupnya?”. Enggak. Kita tahu bahwa varicella adalah penyakit menular, so kalo gak ketularan ya gak bakal menderita varicella. ;)
Moga berguna.
Link Terkait:

Bau badan

MENEBAR BAU, MENUAI MALU
Beberapa waktu yang lalu kita telah membahas soal bau kaki (kuku-kuku kaki kita). Nah, supaya lengkap mari kita ngobrol seputar bau badan, hmmm sedap.
Betapa tersiksanya jika seseorang berdekatan dengan penebar bau badan di sebelahnya, misalnya saat bepergian di dalam bus, kereta api, pesawat atau dimanapun. Bukan hanya tetangga sebelah, si penebar bau badanpun merasakan hal yang sama, tak nyaman, kurang percaya diri dan malu.
Penyandang bau badan tidak selalu jorok atau kurang bersihan lho. Meski sudah mandi berulang-ulang ditambah aroma wangi kembang setaman, toh bau badan masih menerpa hidung tetangga. Repot deh.
Kendati cantik bak bidadari atau tampan seperti penulis bintang film, segala karunia keindahan tersebut seolah sirna tatkala aroma tak sedap menyebar dari pori-pori kulitnya. Tenang, penyandang bau badan tak perlu terlalu kecil hati, ada cara menghilangkan atau setikdaknya untuk menguranginya.
::: ::: ::: ::: ::: Bagaimana terjadinya ? ::: ::: ::: ::: :::
Bau badan terjadi karena produk proses pembusukan melalui keringat yang dihasilkan oleh kelenjar keringat (kelenjar apocrine=apokrin). Sebenarnya hal ini wajar, dalam arti semua orang (di saat tertentu) akan berkeringat sebagai upaya menyeimbangkan suhu tubuh. Keringat yang keluar dari tubuh kita mengandung air, garam dan sisa metabolisme. Proses ini berjalan alami.
Jika keringat dan segala komponen di dalamnya dapat dialami oleh semua orang, mengapa tidak semua orang bau badan? Ya, pertanyaan bagus.
Jumlah kelenjar apokrin tidak sama setiap orang, adakalanya seseorang mempunyai kelenjar apokrin lebih banyak dibanding orang lain, sehingga produksi keringat lebih banyak, akibatnya kecenderungan menyebarkan bau badan menjadi lebih besar. Perlu diketahui bahwa setiap rambut terdapat kelenjar apokrin yang mengandung asam lemak (jenuh) dan berminyak. Selain itu ada kelanjar lain yakni kelenjar ekrin yang menghasilkan air, namun tidak berbau.
Disamping peran kelenjar apokrin, bau badan dapat juga ditimbulkan faktor-faktor lain dan oleh makanan tertentu, misalnya: petai, jengkol, bawang putih dan lain-lain.
::: ::: ::: ::: ::: Faktor Pencetus ::: ::: ::: ::: :::
Beberapa faktor diduga sebagai pencetus timbulnya bau badan, antara lain:
  • Faktor keturunan
  • Kelebihan berat badan (kegemukan=obesitas)
  • Faktor psikis
  • Minuman keras, rokok, obat-obatan (misalnya antibiotika)
  • Makanan protein tinggi (misalnya daging kambing, durian)
  • Kebersihan badan
  • Faktor hormonal (terutama masa puber)
Area tubuh penebar bau badan pada umumnya daerah ketiak dan daerah sekitar kelamin. Eh, iya … kaki juga termasuk, masih ingat bahasan sebelumnya kan ?
::: ::: ::: ::: ::: Pengobatan ::: ::: ::: ::: :::
Mudah, murah, meriah.
Pada dasarnya pengobatan bau badan diarahkan pada eliminasi penyebab atau setidaknya mengurangi faktor yang mempengaruhinya.
Berikut ini adalah beberapa tips yang dapat dilakukan untuk mengusir bau badan.
  • Mandi, sedikitnya 2 kali sehari, dan keringkan dengan handuk bersih. (termasuk keramas secara teratur)
  • Menaburkan bedak (jangan banyak-banyak ya, ntar bisa kelihatan seperti donat)
  • Menggunakan deodorant (jika perlu) yang mengandung antibakteri atau antiperspiran. ( pemakaian parfum tidak efektif karena bersifat sementara)
  • Memakai pakaian bersih dan kering (kalau bisa berbahan penyerap keringat)
  • Mengkonsumsi sayuran dan minum air putih.
  • Hindari masakan (makanan) berbumbu kental (sekali-sekali gak papa) ;)
Tambahan: mas Dani Iswara:
  • Hentikan pemakaian bedak atau deodorant jika terjadi iritasi atau reaksi kulit.
  • Jika perlu, cukur daerah tempat parkir keringat, misalnya bulu “ketiak” dan daerah “k3lamin”. *hati-hati ya, jangan kegores* ;)
Adapun pengobatan spesifik dilakukan atas saran dan keputusan dokter (spesialis kulit dan kelamin) jika langkah diatas tidak kuasa mengusir bau badan.
SEMOGA BERMANFAAT
Topik Terkait:

Erysipelas

Erysipelas
erysipelas di paha Pernahkah pembaca menjumpai seseorang menderita penyakit kulit yang ditandai dengan kulit berbercak merah, berbatas tegas, melepuh, kadang berair, adakalanya bernanah dan membentuk area erosi cukup luas pada permukaan kulit ? Jika iya, maka tanda umum tersebut merupakan gambaran dari Erysipelas.
Meski sekarang sudah jarang, penyakit ini masih dapat dijumpai di praktek sehari-hari, terutama pada anak-anak yang sebelumnya ditemukan adanya koreng atau luka di sekitar timbulnya Erysipelas (Erisipelas). Ingat ! Tidak ada pantangan makanan.

Apa Erysipelas itu ?
erysipelas di leher Erysipelas ( Erisipelas ) adalah infeksi akut pada kulit dan jaringan di bawah kulit yang sebagian besar disebabkan oleh bakteri Streptococcus pyogenes.
Erysipelas dapat terjadi pada semua usia dan semua bangsa (ras), namun paling sering terjadi pada bayi, anak dan usia lanjut.
Aste N, Atzori L, Zucca M, Pau M, Biggio P menyebutkan bahwa Erysipelas lebih sering terjadi pada pria ketimbang wanita, dengan perbandingan 4:1.
Sekitar 85 % Erysipelas terjadi di kaki dan wajah, sedangkan sebagian kecil dapat terjadi di tangan, perut dan leher serta tempat lainnya.
Bagaimana terjadinya ?
Erysipelas terjadi oleh penyebaran infeksi yang diawali dengan pelbagai kondisi yang berpotensi timbulnya kolonisasi bekteri, misalnya: luka, koreng, infeksi penyakit kulit lain, luka operasi dan sejenisnya, serta kurang bagusnya hygiene.
Selain itu, Erysipelas dapat terjadi pada seseorang yang mengalami penurunan daya tahan tubuh, misalnya: diabetes millitus, malnutrisi (kurang gizi), dan lain-lain.
Apa saja tanda-tandanya ?
Erysipelas pada umumnya diawali dengan panas, menggigil, sakit kepala, nyeri sendi, muntah dan rasa lemah.
Pada kulit nampak kemerahan, berbatas tegas dengan bagian tepi meninggi, nyeri dan teraba panas pada area tersebut.
Di permukaan kulit adakalanya dijumpai gelembung kulit (bula) yang berisi cairan kekuningan (seropurulen). Pada keadaan yang berat, kulit nampak melepuh dan kadang timbul erosi (kulit mengelupas).
Perlukah pemeriksaan Laboratorium ?
Tidak perlu ! Pasalnya, penyakit ini sangat mudah dikenali secara kasat mata. kalaupun dilakukan pemeriksaan Lab, hasilnya menunjukkan peningkatan lekosit hingga 20.000 atau lebih. Itu saja. Kecuali untuk tujuan penelitian di RS Sentra Pendidikan Kedokteran, dimana diperlukan kultur darah dan cairan erosi luka untuk mengetahui jenis kuman.
PENGOBATAN
Saat ini, sudah sangat jarang dijumpai Erysipelas yang berat disertai kondisi tubuh lemah hingga memerlukan rawat inap. Pada umumnya masyarakat segera berobat saat masih fase awal sehingga hanya diperlukan rawat jalan dan perawatan di rumah sekitar 7 – 10 hari.
Obat-obat yang lazim digunakan:
Obat pilihan utama (drug of choice):
Penicilline masih merupakan obat pilihan utma dan memberikan respon sangat bagus untuk penyembuhan Erysipelas.
  • Benzyl penicilline 600-1200 mg, diberikan secara intravenous setiap 6 jam, sedikitnya 10 hari.
  • Penicilline Procain G: 0,6-1,2 juta unit, diberikan secara intramuskuler (suntik di bokong atau paha), 2 kali sehari selama 10 hari.
  • Amoxycilline 500 mg, diminum 3 x 1 selama 7-10 hari. Atau ampicilline 500 mg, diminum 4 x 1 selama 7-10 hari. Dapat juga diberikan kombinasi Amoxycilline dan Clavulanic acid selama 10 hari.
Obat-obat lain yang dapat digunakan, diantaranya:
  • Erythromycin. Diminum 4 kali 250-500 mg sehari, selama 10 hari. Dosis anak: 30-50 mg per kg berat badan per hari, diberikan 3-4 kali sehari selama 10 hari.
  • Cloxacilline atau Dicloxacilline, diminum 4 kali 250-500 mg sehari, selama 10 hari.
  • Cephalosporine, misalnya cefadroxyl, diminum 3 kali 500 mg selama 10 hari.
  • Dan lain-lain.
Obat Topikal (obat luar):
  • Kompres dengan Sodium Chloride 0,9 %.
  • Salep atau krim antibiotika, misalnya: Natrium Fusidat, Mupirocin, Garamycin, Gentamycin.
Apakah Erysipelas berbahaya ? Jika diobati secara dini tentu tidak bahaya. Hanya saja dibutuhkan kesabaran, mengingat waktu yang diperlukan untuk penyembuhan sekitar 7 – 10 hari atau lebih.
Semoga bermanfaat.
:: :: :: posting menggunakan WLW :: :: ::

Impetigo kulit melepuh

Impetigo, kulit melepuh seperti tersulut api.
Impetigo pada wajah bayiSuatu ketika mungkin kita pernah mendapati seseorang (terutama anak-anak) yang kulitnya melepuh seperti terkena api atau sepeti tersulut puntung rokok (lihat gambar). Makin lama makin banyak menyebar ke berbagai bagian tubuh.
Sebagian suku Jawa menyebutnya penyakit sulet. Mitos yang beredar biasanya dihubungkan dengan terbakarnya pakaian si anak (popok, celana, pampers pospak atau apalah yang dipakai anak). Ah, mitos. Kita perbaiki yuk !!!

Mitos tersebut konon karena bentuk penyakit yang mirip kulit terbakar. Tentu saja bukan. Tidak mudah meluruskannya mengingat kepercayaan turun temurun dianggap benar walaupun sebenarnya salah. Bahkan pendidikan tinggipun tidak kuasa menangkalnya. Buktinya, kebanyakan para ibu lulusan SLTA ke atas masih menganggap penyakit tersebut berhubungan dengan pakaian anaknya yang terbakar, sengaja ataupun tidak. Informasi tersebut didapatnya dari keluarga atau tetangga yang lebih tua. Kelak, para ibu itupun akan mewarisakan hal yang sama kepada anak-anaknya.
Nah, informasi ini diharapkan dapat memotong kekeliruan mata rantai informasi di bidang kesehatan.
Lalu apa nama penyakit tersebut dan apapula penyebabnya?
Penyakit seperti nampak pada gambar disebut impetigo *namanya keren juga ya*. Dalam dunia kedokteran dibagi 2 jenis, yakni:
  1. Impetigo Kontagiosa, yakni kulit melepuh mirip tersulut api, dan
  2. Impetigo Bulosa, yakni kulit melepuh disertai dengan adanya kantong berisi cairan kekuningan.
Impetigo sering terjadi pada bayi, anak-anak, kadang pada orang dewasa. Dalam praktek sehari-hari impetigo masih kerap dijumpai. Impetigo mudah menular. Jika tidak segera diobati akan menyebar dan menetap hingga berminggu-minggu. Selanjutnya impetigo sembuh dengan sendirinya. Kendati demikian, seyogyanya diobati. Mana ada ibu yang tega melihat kulit anak tercinta melepuh di sekujur tubuhnya?
:: :: :: PENYEBAB :: :: ::
Impetigo adalah penyakit infeksi permukan kulit yang disebabkan oleh kuman, menular dan mudah menyebar.
Impetigo bulosa (melepuh disertai kantong berisi cairan) disebabkan oleh kuman Stafilokokus (Staphylococcus aureus), sedangkan Impetigo kontagiosa (melepuh tanpa kantong berisi cairan) disebabkan oleh kuman Stafilokokus, Streptokokus atau kombinasi kedua kuman di atas.
:: :: :: BAGAIMANA TERJADINYA ? :: :: ::
Pada mulanya, kuman (Stafilokokus, Streptokokus) di permukaan kulit berasal dari penularan, bekas gigitan serangga, atau bekas garukan. Setelah sekitar 10 hari, kuman akan menyebabkan Impetigo.
Terjadinya impetigo ditandai dengan: permukaan kulit melepuh, keluar cairan, adakalanya bernanah. Pada impetigo bulosa, terbentuk semacam kantong tipis, lunak, berisi cairan kekuningan. Tak jarang disertai pembesaran kelenjar (limfadenopati) di daerah kulit yang melepuh.
Kadang disertai rasa seperti terbakar dan gatal. Tak heran jika mengenai bayi, maka sang bayi akan rewel.
Penyakit ini akan sembuh sendiri dalam beberapa minggu tanpa meninggalkan jaringan parut (sikatrik)
Untuk mengenali penyakit ini relatif mudah, yakni dengan melihat bentuk dan penyebarannya.
:: :: :: TIPS PENGOBATAN :: :: ::
Pengobatan ditujukan untuk memberantas kuman penyebab menggunakan antibiotika (diminum dan obat lokal). Antiseptik dapat dipergunakan untuk membersikan kulit yang melepuh sebelum diolesi salep.
Untuk perawatan, silahkan ikuti langkah-langkah berikut:
  • Menjaga kebersihan penderita dan lingkungan.
  • Penderita tetap mandi (dimandikan) seperti biasa. (ada kepercayaan gak boleh mandi lho, hiy :P ). Mandi ya … ;)
  • Menggunakan obat sesuai anjuran dokter. Obat minum ataupun obat lokal (salep, cream) hendaknya sesuai takaran.
  • Menghindari penularan dengan menjauhkan anak sehat dari anak yang sakit.
Edisi baca: silahkan download file swf flash, 1,1 Mb (kompresi) di sini.
Semoga bermanfaat.
Topik Terkait: